Perpustakaan Nasional Mendukung Nagekeo sebagai Kabupaten Literasi

Mbay, Nusa Tenggara Timur – Dalam perhelatan Festival Literasi Nagekeo 2019, Perpustakaan Nasional meresmikan Nagekeo sebagai kabupaten literasi. Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando menyatakan, hal ini merupakan bentuk dukungan dari Perpusnas kepada Kabupaten Nagekeo yang memiliki visi membangun sumber daya manusia melalui literasi.

“Kewajiban kami dari Perpustakaan Nasional sebagai pemerintah pusat, mendukung penuh apa yang menjadi esensi keinginan dari bapak bupati karena ini sejalan dengan keinginan dari pemerintah pusat. Kita tahu bahwa Presiden Jokowi sudah mendeklarasikan “SDM unggul, Indonesia Maju” dan saya kira ini sangat setuju untuk kita tindaklanjuti,” ujar Syarif Bando di sela acara yang digelar di Lapangan Berdikari, Mbay, Nusa Tenggara Timur, pada Senin (30/9/2019).

Festival Literasi Nagekeo 2019 dengan tema “Melalui Perpustakaan Membangun Rumah Peradaban Baru di Timur Indonesia” berlangsung pada 27-30 September 2019. Pada malam puncak festival yang diisi dengan talkshow, para bupati, wakil bupati, ketua DPRD sementara, dan ribuan orang turut hadir memeriahkan acara tersebut.

Wakil Gubernur NTT Yosef Nai Soi membacakan Deklarasi NTT Bangkit, NTT Sejahtera yang didampingi bupati dan walikota se-NTT, disaksikan Syarif Bando. Deklarasi berisikan komitmen untuk mendukung literasi dan memanfaatkan perpustakaan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTT.

Bupati Nagekeo Yohanes Don Bosco Do menyatakan festival literasi yang baru pertama kali ini, digelar untuk mengangkat kekhasan yang dimiliki Nagekeo agar tetap relevan di tengah perubahan dunia. Salah satunya dengan mengangkat kembali kerajinan tembikar Esu Kose yang sudah hilang selama 40 tahun tersebut. Pada malam puncak festival, sebanyak 1.000 wanita dilibatkan dalam Parade Esu Kose.

“Esu Kose ini merupakan simbol, ingatan spontan saya, bahwa kita sebetulnya punya sesuatu, kreativitas, kerajinan tangan, kalau yang anyam, tenun, sudah banyak dikenal. Tapi tembikar ini, kebetulan dia mewakili keterampilan, kebudayaan yang sudah hilang 30-40 tahun yang lalu. Jadi kita bangkitkan kembali, dalam sebuah gebrakan massa. Ini sebuah kebangkitan dari masyarakat Nagekeo yang diwakili oleh Komunitas Adat Ndora, Kecamatan Nangaroro. Dan saya berharap tahun yang akan datang, festival literasi ini akan menampilkan juga kreasi-kreasi masyarakat yang sudah lama tinggalkan,” jelas Bupati Don.

Wakil Gubernur NTT Yosef Nai Soi mengapresiasi perhelatan akbar yang diselenggarakan Bupati Nagekeo. Menurutnya, festival literasi yang melibatkan kekayaan budaya merupakan bentuk penghormatan kepada Allah (Tuhan), alam, dan leluhur.

“Bapak ibu mengenakan pakaian adat, ini bukan hanya kerajinan tangan nenek moyang tapi juga kekayaan intelektual leluhur kita,” tuturnya. Wagub Yosef menjelaskan festival literasi merupakan salah satu perwujudan misinya bersama Gubernur NTT Viktor Laiskodat yaitu meningkatkan kualitas SDM. Hal ini bisa diwujudkan melalui literasi dan pemanfaatan perpustakaan.

“Literasi artinya kita membuat perpustakaan di masing-masing desa supaya seluruh masyarakat bisa membaca,” jelasnya.

Dia menjelaskan, semangat yang diusung Undang-Undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan memiliki makna mendalam. “Seperti filosofi bahasa Latin bahwa belajar bukan untuk sekolah tapi belajar untuk hidup. Itulah literasi,” pungkasnya.

Pada kesempatan tersebut, Syarif Bando menyerahkan tiga mobil perpustakaan keliling kepada Wagub Yosef dengan peruntukan provinsi Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Nagekeo, dan Kabupaten Sabu Rajua. Selain itu, Ketua Tim PKK NTT Julie Sutrisno Laiskodat dinobatkan sebagai Bunda Baca NTT.

Reporter: Hanna Meinita/Agus Joko

Sumber : https://www.perpusnas.go.id/news-detail.php?lang=id&id=191001110712bS2zMoxwaK

Categories:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *